Rabu, 22 Desember 2010

WELCOME TO PASAMAN BARAT


     Akhir bulan ini saya akan pulang kampung. Senang rasanya bisa bertemu dengan teman2 saya lagi, bisa ketemu kucing kesayangan saya lagi, bisa makan masakan mama saya lagi, dan tentunya bisa ngemil semua jajanan kegemaran saya lagi. Tapi di lain pihak ada rasa enggan. Enggan menjawab pertanyaan kapan punya anak, enggan menerima pandangan menusuk dari orang sekitar melihat suami saya yang berbeda, enggan harus beramah tamah dengan orang2 yang hobinya ingin ikut campur dengan hidup orang lain, dan enggan untuk memberikan justifikasi keputusan saya untuk menetap di negeri orang.

Rasanya saya ini terbelah dua. Terbelah antara identitas diri sebagaimana saya dilahirkan and what I am suppose to be, dan identitas diri saya sebagaimana saya ingin diterima dan dimengerti. Banyak orang yang menyayangkan keputusan saya untuk menetap di luar negeri, dari yang sekedar karena tidak mau kehilangan teman baiknya sampai menuduh kalo saya ini tidak cinta negeri sendiri. Ada yang bilang : "...gimana mau negara maju kalau orang2 berpotensi seperti kamu pergi meninggalkan negara." Di satu sisi bangga juga ada orang yang menganggap saya berprestasi, di lain sisi sempat dongkol karena merasa saya tidak berhak untuk dituding2 seperti itu.

Yang lebih parah kalau ada orang yang langsung memvonis: Pit orang2 di Eropa pasti pada rasis kan? Kok eloe betah sih di sana? Percaya atau tidak, sampai saat ini jarang saya menerima perlakuan yang 'rasis'. Mungkin saya beruntung berada di lingkungan orang yang berpendidikan sehingga mereka melihat diri saya beyond my skin colour. Lucunya saya malah menerima perlakuan yang merendahkan dari orang Indonesia yang kebetulan tinggal di sini. Mereka yang kebanyakan diplomat, istri diplomat, atau anak diplomat sungguh menunjukkan kesenjangan sosial di negara kita. Sikap mereka yang angkuh dan hanya memandang orang lain dari status, kedudukan sosial atau merek mobil yang dikendarai, membuat saya muak dan malu untuk mengakui bahwa mereka itu satu bangsa dengan saya. Sekali2nya saya coba untuk bersosialisasi dengan mereka, saya dituduh pembantu salah satu teman mereka. Jadi janganlah terkejut kalau saya bilang bahwa saya tidak berhubungan sama sekali dengan orang Indonesia di sini. Buat apa?

Ah pulang kampung, pasti nyaman rasanya bisa berbicara dengan bahasa ibu lagi. Nyaman rasanya berada di lingkungan di mana saya dibesarkan. Nyaman rasanya kembali ke protection bubble yang telah dibangun dengan susah payah oleh kedua orang tua saya. Tapi saya juga pasti akan gundah melihat banyaknya anak jalananan yang berusaha untuk bertahan hidup. Gundah rasanya melihat perbedaan antara apa yang saya miliki dan apa yang tidak dimiliki oleh yang lain. Gundah rasanya menyadari mudahnya hidup saya dan susahnya hidup yang lain. Gundah rasanya melihat orang di sekeliling saya hampir buta akan penderitaan yang lain. Dan gundah rasanya menyadari ketidakberdayaan saya untuk menolong yang lain.

I feel guilty for being me and for having all the facilities that are denied to others. Have I done enough for others?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar